Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta Periode November 2016

 30 December 2016

Di tengah kenaikan harga komoditas hortikultura di sebagian besar wilayah Indonesia, inflasi DKI Jakarta masih mampu bergerak stabil. Inflasi ibukota pada bulan November 2016 tercatat sebesar 0,24% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang mencapai 0,47% (mtm). Perkembangan tersebut juga relatif stabil, baik dibandingkan dengan bulan sebelumnya maupun rata-rata inflasi bulan November dalam lima tahun terakhir. Dorongan Inflasi dari tingginya kenaikan harga komoditas kelompok bahan makanan, terutama sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan, dapat teredam oleh rendahnya inflasi pada kelompok lainnya. Dengan demikian, tekanan inflasi Jakarta menjelang akhir tahun masih terkendali dengan laju inflasi yang baru mencapai 2,09% (ytd), lebih rendah dari nasional 2,59% (ytd) dan jauh lebih rendah dari rata-rata lima tahun sebelumnya 4,64% (ytd). 

Memerhatikan pola perkembangan harga-harga di pasar-pasar di Jakarta hingga akhir November 2016, inflasi pada periode Desember 2016 mendatang diperkirakan meningkat sesuai dengan polanya. Masuknya Hari Natal serta tahun baru tahun 2017 menjadi pendorong permintaan pada Desember 2016, terutama untuk komoditas yang tergabung pada kelompok inflasi inti, antara lain makanan jadi dan sandang, serta kelompok administered prices terutama komoditas transportasi. Komoditas volatile food juga tetap perlu mendapat perhatian, mengingat fenomena La-Nina masih berlangsung. Walau demikian, hal tersebut tidak memengaruhi capaian inflasi Jakarta keseluruhan tahun 2016 yang diperkirakan cenderung berada pada level bawah dari target inflasi.

Penguatan koordinasi Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi DKI serta BUMD di bidang pangan melalui TPID akan selalu digalakkan untuk mencapai inflasi ibukota yang rendah dan stabil. Penguatan peran dan sinergitas ketiga BUMD bidang pangan terus didorong oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui berbagai program yang tidak hanya semata-mata mengendalikan harga pangan di DKI Jakarta, namun juga dapat meningkatkan perekonomian bagi daerah pemasoknya. Tercapainya kestabilan inflasi akan mendorong pembangunan ekonomi DKI Jakarta secara keseluruhan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

  1. Secara bulanan, inflasi IHK tercatat sebesar 0,24% (mtm), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan awal yang sebesar 0,27% dan rata-rata tiga tahun terakhir, yaitu sebesar 0,56%. Relatif stabilnya inflasi Jakarta pada bulan November 2016 didukung oleh inflasi kelompok inti dan administered prices yang bergerak relatif stabil, di tengah kenaikan inflasi volatile food yang disebabkan oleh kenaikan harga komoditas hortikultura. Dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, inflasi Jakarta pada November 2016 tercatat sebesar 2,83% (yoy).
  • Relatif stabilnya inflasi Jakarta pada bulan November 2016 didukung oleh Inflasi kelompok inti yang bergerak relatif stabil sejak awal tahun 2016. Emas perhiasan yang mengalami deflasi sebesar 0,66% (mtm), seiring harga emas internasional yang turun sejak Oktober 2016, kembali menjadi penyumbang utama terkendalinya inflasi inti. Ekspektasi harga masyarakat yang terjaga, serta tekanan permintaan masyarakat yang masih terbatas, merupakan faktor lain yang turut mendukung pencapaian inflasi inti yang stabil tersebut. Namun terdapat beberapa komoditas dalam kelompok inti yang mengalami inflasi, antara lain tarip pulsa ponsel (1, 63% mtm), kontrak rumah (0,23% mtm), dan obat-obatan (0,30% mtm). 
  • Kelompok administered prices pada bulan November 2016 juga bergerak relatif stabil, setelah pada bulan sebelumnya mengalami kenaikan cukup tinggi. Kenaikan harga pada BBM nonsubsidi (pertamax dan pertamax plus) per 16 November 2016 telah menyebabkan inflasi komoditas bensin sebesar 0,41% (mtm). Selain itu, kenaikan cukai rokok secara berkala yang dilakukan semenjak awal tahun 2016, juga turut menyebabkan inflasi pada rokok kretek sebesar 0,98% (mtm). Dorongan inflasi administered prices yang disebabkan oleh kenaikan harga BBM dan cukai rokok tersebut, tertahan oleh deflasi yang terjadi pada subkelompok transpor, yaitu deflasi angkutan udara sebesar 1,76% (mtm) dan deflasi tarif kereta api sebesar 0,75% (mtm). Tidak adanya faktor musiman sepanjang November 2016 ikut mendukung pencapaian inflasi administered price yang stabil
  • Di tengah stabilnya inflasi inti dan administered prices, inflasi kelompok volatile food tercatat cukup tinggi. Inflasi terutama disebabkan oleh kenaikan harga komoditas hortikultura (sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan), yaitu cabai merah, bawang merah dan tomat sayur. Ketiga komoditas tersebut masing-masing tercatat mengalami inflasi sebesar 22,06% (mtm), 16,00% (mtm) dan 17,51% (mtm). Anomali cuaca La-Nina yang menyebabkan hujan berkepanjangan, telah mengganggu produktivitas komoditas hortikultura di berbagai sentra di tanah air. Hal tersebut berdampak pada berkurangnya pasokan yang masuk ke pasar-pasar di ibukota. Namun, deflasi harga beras serta komoditas daging dan hasil-hasilnya seperti daging ayam dan telur ayam, mampu menahan gejolak volatile food yang lebih tinggi.
  • Perkembangan stok pangan di DKI Jakarta selain komoditas hortikultura masih stabil. Volume stok beras yang berada di PIBC (Pasar Induk Beras Cipinang) pada minggu kelima November 2016 masih stabil pada posisi 37.127 ton dari 37.371 ton pada minggu sebelumnya. Stok beras masih terjaga di tengah musim tanam pada beberapa daerah produsen. Stok daging potong oleh PD Dharma Jaya pada minggu kelima November 2016 tercatat 26.968 kg, dan stok sapi hidup sebanyak 1.541 ekor sapi. Walau demikian, pasokan sayur-sayuran yang masuk ke pasar cenderung menurun. Pasokan cabai merah TW (cabe merah besar) dan bawang merah ke PD Pasar Jaya masing-masing sebesar 601 ton dan 582 ton, sedikit menurun akibat hujan berkepanjangan di daerah produsen. Optimalisasi dan sinergitas peran BUMD pangan DKI Jakarta, secara efektif mampu menahan gejolak inflasi pangan berlebih di Ibukota, yang dilakukan melalui perbaikan rantai distribusi serta manajemen stok.
    2. Memasuki pertengahan triwulan IV 2016, pencapaian inflasi Ibukota tercatat sebesar 2,83% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya (5,38% yoy). Terkendalinya tekanan inflasi tahunan pada pertengahan triwulan IV 2016, masih didorong oleh relatif terbatasnya tingkat konsumsi masyarakat serta koreksi harga pada beberapa komoditas administered prices, walaupun pada akhir triwulan III terjadi penyesuaian harga pada beberapa komoditas dalam kelompok tersebut. Selain itu, terkendalinya harga pangan didukung oleh manajemen stok yang baik sehingga permintaan bahan pangan dari berbagai agen ekonomi dapat direspons dengan baik dari sisi pasokannya. Dengan perkembangan di atas, secara kumulatif inflasi Jakarta baru mencapai 2,09% (ytd), relatif rendah dibandingkan dengan rata-rata 5 tahun sebelumnya (4,64% ytd). Sehubungan dengan hal tersebut, sampai dengan akhir tahun 2016 inflasi Jakarta diperkirakan akan lebih rendah dari inflasi tahun 2015.
    3. Dalam upaya menjaga tingkat inflasi agar tetap terjaga, koordinasi dan kerjasama dengan berbagai instansi baik dalam lingkup Jakarta maupun antardaerah semakin ditingkatkan. Terkait dengan hal itu, telah dilaksanakan beberapa kegiatan, TPID antara lain adalah: 1) pertemuan teknis secara mingguan untuk melakukan pemantauan harga pangan strategis serta stok pangan di Jakarta; 2) Studi banding dan penjajakan kerjasama dengan TPID Jawa Tengah (17-18 November); 3) Menerima kunjungan TPID Sumatera Utara (7-8 November 2016) dan TPID Tasikmalaya (21 November) dalam rangka studi banding; 4) Rapat pengembangan Info Pangan Jakarta (IPJ); 5) Operasi pasar dan pasar murah di beberapa kelurahan secara harian. Berbagai kegiatan TPID akan selalu digalakkan untuk mencapai inflasi ibukota yang rendah dan stabil.
    4. Memerhatikan pola perkembangan harga-harga di pasar-pasar di Jakarta hingga akhir November 2016, inflasi pada periode Desember 2016 mendatang diperkirakan meningkat sesuai dengan polanya. Masuknya Hari Natal serta tahun baru 2017 menjadi pendorong permintaan pada Desember 2016 terutama untuk komoditas yang tergabung pada kelompok inflasi inti, antara lain makanan jadi dan sandang, serta kelompok administered prices terutama komoditas transportasi. Komoditas volatile food juga tetap perlu mendapat perhatian, mengingat fenomena La-Nina masih berlangsung. Walau demikian, hal tersebut tidak memengaruhi capaian inflasi Jakarta keseluruhan tahun 2016 yang diperkirakan cenderung berada pada level bawah dari target inflasi
    5.Prospek inflasi IHK DKI Jakarta di tahun 2016 diperkirakan masih terkendali pada rentang 2,50%-3,00%. Penguatan koordinasi Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi DKI serta BUMD di bidang pangan melalui TPID akan selalu diupayakan untuk mencapai inflasi ibukota yang rendah dan stabil. Penguatan peran dan sinergitas ketiga BUMD bidang pangan perlu terus didorong oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui berbagai program yang tidak hanya semata-mata mengendalikan harga pangan di DKI Jakarta, namun juga dapat meningkatkan perekonomian bagi daerah pemasoknya. Tercapainya kestabilan inflasi akan mendorong pembangunan ekonomi DKI Jakarta secara keseluruhan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Komentar Tentang Berita Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta Periode November 2016

Load More
Loading... sedang mengambil data...