Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta Periode Febuari 2017

 17 April 2017

Walau mereda dibandingkan dengan bulan sebelumnya, perkembangan inflasi Jakarta Februari 2017 masih terbilang tinggi. Inflasi pada bulan ini tercatat sebesar 0,33% (mtm), lebih rendah dari inflasi Januari 2017 yang meningkat tinggi akibat adanya kenaikan tarif listrik (0,99%, mtm). Namun perkembangan inflasi Februari 2017 lebih tinggi jika dibandingkan dengan inflasi nasional (0,23% mtm), maupun dengan rata-rata inflasi Februari tiga tahun sebelumnya (0,22%, mtm). Hal ini disebabkan oleh adanya kenaikan harga emas perhiasan, kenaikan harga beberapa komoditas bumbu-bumbuan seperti bawang merah dan cabai rawit akibat hujan berkepanjangan, serta dampak lanjutan penyesuaian tarif listrik 900VA.

Di tengah relatif terkendalinya permintaan masyarakat dan harga pangan di Ibukota, harga emas perhiasan yang meningkat, diikuti harga komoditas hortikultura serta dampak lanjutan dari pencabutan subsidi listrik 900 VA menjadi penahan perlambatan inflasi Ibukota. Harga emas perhiasan tercatat mengalami kenaikan sebesar 3,67% (mtm). Di sisi lainnya, harga bawang merah naik sebesar 10,74% (mtm), sementara cabai rawit naik 14,12% (mtm) akibat hujan berkepanjangan di daerah produsen. Adapun tarif listrik mengalami kenaikan sebesar 0,87% (mtm), utamanya pada pelanggan pasca bayar.

Memerhatikan berbagai kebijakan pemerintah pada komoditas terkait energi, perkembangan harga-harga dan pantauan terhadap beberapa komoditas di pasar-pasar di Jakarta hingga Februari 2017, inflasi pada Maret 2017 diprakirakan akan meningkat kembali terutama akibat penyesuaian tarif listrik 900VA yang akan kembali dilakukan pada Maret 2017. Adapun harga pangan diperkirakan tetap terkendali, namun komoditas hortikultura berisiko mengalami gejolak jika curah hujan masih terus berkepanjangan. Berbagai dampak lanjutan dari kebijakan yang akan dilakukan pemerintah perlu terus dicermati, termasuk langkah-langkah mitigasi dalam rangka merespons risiko cuaca ekstrim yang sulit diprediksi, yang akan berdampak pada kestabilan harga pangan. Untuk itu, koordinasi kebijakan pengendalian harga perlu ditingkatkan tidak hanya antar institusi di lingkungan Provinsi DKI Jakarta, tetapi juga perlu ditingkatkan hingga level pemerintah pusat, agar sasaran inflasi nasional sebesar 4% ± 1% dapat tercapai.

 

1. Secara bulanan, inflasi IHK tercatat sebesar 0,33% (mtm), sejalan dibandingkan dengan perkiraan awal yang sebesar 0,30% dan  lebih tinggi dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir, yaitu sebesar 0,22%. Meredanya inflasi Jakarta pada Februari 2017 disebabkan oleh terkendalinya inflasi pangan dan inti. Walau demikian, dampak lanjutan kebijakan pemerintah mampu menahan laju perlambatan inflasi Dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, inflasi Jakarta pada Februari 2017 tercatat sebesar 3,53% (yoy). 

  • Dari sisi disagregasi, terjaganya sebagian besar kelompok volatile food menjadi faktor pendorong meredanya tekanan inflasi Februari 2017. Terkendalinya harga pangan terutama bersumber dari harga beras yang stabil dan harga komoditas subkelompok daging dan hasil-hasilnya yang turun. Harga beras relatif tidak mengalami perubahan dari bulan sebelumnya. Langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjaga kesinambungan dan manajemen stok beras yang baik mampu menjaga kestabilan harga beras. Harga daging ayam ras dan telur ayam turun, masing-masing sebesar 2,84% mtm dan 3,13% mtm. Namun, kenaikan harga bawang merah dan cabai rawit merah yang cukup tinggi akibat berkurangnya pasokan seiring hujan berkepanjangan, menjadi faktor penahan perlambatan inflasi di Ibukota. Pada Februari 2017 harga bawang merah naik sebesar 10,74% (mtm), sementara cabai rawit naik 14,12% (mtm).
  • Perkembangan stok pangan di DKI Jakarta tetap stabil. Volume stok beras yang berada di PIBC (Pasar Induk Beras Cipinang) pada minggu ketiga Februari 2017 masih relatif stabil pada posisi 35.511 ton dari 33.603 ton pada akhir minggu bulan sebelumnya. Stok daging potong oleh PD Dharma Jaya pada minggu ketiga Februari 2017 tercatat 239.517 kg, dan stok sapi hidup sebanyak 914 ekor sapi. Pasokan sayur-sayuran yang masuk ke DKI Jakarta belum banyak berubah dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pasokan cabai merah TW (cabe merah besar) dan bawang merah ke PD Pasar Jaya masing-masing sebesar 534 ton dan 461 ton. Optimalisasi dan sinergitas peran BUMD pangan DKI Jakarta, secara efektif mampu menahan gejolak inflasi pangan berlebih di Ibukota, yang dilakukan melalui perbaikan rantai distribusi serta manajemen stok.
  • Inflasi inti pada Februari 2017 juga terkendali dibandingkan dengan Januari 2017. Hal itu didukung oleh permintaan masyarakat yang masih relatif terbatas, serta nilai tukar yang cukup stabil. Namun, kenaikan beberapa komoditas dalam kelompok inti menahan laju penurunan inflasi inti. Tren kenaikan harga emas internasional sejak awal tahun 2017 mendorong harga emas perhiasan diJakarta meningkat hingga 3,67% (mtm). Kenaikan juga terjadi pada upah pembantu rumah tangga.
  • Turunnya inflasi Februari 2017 juga tertahan oleh dampak lanjutan kebijakan pemerintah mencabut subsidi listrik pelanggan 900VA (administered prices). Penyesuaian tarif listrik yang dilakukan pada Januari 2017 masih berdampak pada pengguna listrik pascabayar di bulan ini sehingga tarif listrik tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,87% (mtm).

2. Inflasi Ibukota yang tercatat sebesar 2,53% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya (3,13% yoy). Berbagai kebijakan akan diupayakan agar inflasi Jakarta tetap mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional 4%±1%. Untuk itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga terus berupaya untuk menjaga kestabilan harga pangan strategis, melalui manajemen stok yang baik dan proses pendistribusian bahan pangan ke masyarakat dengan rantai pasokan pangan yang pendek. Koordinasi pengendalian inflasi antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta dengan Pemprov. DKI Jakarta dalam wadah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta yang cukup intens telah membawa laju inflasi bahan makanan yang relatif terjaga, yaitu sebesar 1,04% (ytd), lebih rendah dari rata-rata tiga tahun sebelumnya (1,74% yoy). 

3. Dalam upaya menjaga tingkat inflasi agar tetap rendah dan stabil, koordinasi dan kerjasama anggota TPID Jakarta terus digalakkan. Terkait dengan hal itu, telah dilaksanakan beberapa kegiatan TPID pada Februari 2017, antara lain adalah: 1) Tindak lanjut kerjasama dengan TPID Jawa Barat melalui kunjungan lapangan untuk kerjasama breeding sapi; 2) Penyampaian Laporan TPID tahun 2016 ke Pokjanas TPID; 3) Rapat persiapan High Level Meeting TPID Jakarta; 4) Mengikuti pertemuan teknis secara mingguan (setiap hari Kamis) bersama instansi serta SKPD Provinsi DKI Jakarta yang tergabung dalam TPID dalam rangka pemantauan harga pangan strategis serta stok pangan di Jakarta; 5) Rapat pengembangan Info Pangan Jakarta; 6) Operasi pasar dalam rangka pengendalian harga, yang diselenggarakan melalui PT Food Station Tjipinang Jaya

3. Memerhatikan berbagai kebijakan pemerintah pada komoditas terkait energi, perkembangan harga-harga dan pantauan terhadap beberapa komoditas di pasar-pasar di Jakarta hingga Februari 2017, inflasi pada Maret 2017 diprakirakan akan meningkat kembali terutama akibat penyesuaian tarif listrik 900VA yang akan kembali dilakukan pada Maret 2017. Adapun harga pangan diperkirakan tetap terkendali, namun komoditas hortikultura berisiko mengalami gejolak jika curah hujan masih terus berkepanjangan. Berbagai dampak lanjutan dari kebijakan yang akan dilakukan pemerintah perlu terus dicermati, termasuk langkah-langkah mitigasi dalam rangka merespons risiko cuaca ekstrim yang sulit diprediksi, yang akan berdampak pada kestabilan harga pangan. Untuk itu, koordinasi kebijakan pengendalian harga perlu ditingkatkan tidak hanya antar institusi di lingkungan Provinsi DKI Jakarta, tetapi juga perlu ditingkatkan hingga level pemerintah pusat, agar sasaran inflasi nasional sebesar 4% ± 1% dapat tercapai

4. Ke depan perkembangan harga-harga akan terus dicermati untuk mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional. Kebijakan Bank Indonesia akan diupayakan untuk tetap mengawal pencapaian target inflasi nasional tahun 2017 yaitu 4% ± 1%. Selain itu, penguatan koordinasi Bank Indonesia, Pemerintah Provinsi DKI dan Pemerintah Pusat melalui TPID sangat diperlukan untuk memastikan tetap terkendalinya inflasi tahun 2017, terutama dari administered prices dan volatile food. Koordinasi kebijakan administered prices, terutama terkait dengan waktu penetapan kebijakan tersebut, agar tidak

5. Bersamaan dengan munculnya tekanan inflasi yang bersifat musiman. Sementara itu, tekanan inflasi volatile food diprakirakan berasal dari terbatasnya pasokan sejumlah bahan pangan. Menghadapi tantangan tersebut, diperlukan sinkronisasi kebijakan yang didukung dengan komitmen yang kuat dari berbagai pihak.

Komentar Tentang Berita Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta Periode Febuari 2017

Load More
Loading... sedang mengambil data...