Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta Periode April 2017

 03 June 2017

Tekanan harga di Provinsi DKI Jakarta pada bulan keempat tahun 2017 kembali turun, bahkan mengalami deflasi. Pada April 2017 Jakarta mengalami deflasi sebesar 0,02% (mtm). Angka tersebut lebih rendah dari rata-rata inflasi April tiga tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 0,01% (mtm), dan juga dari inflasi nasional April 2017 (0,09% mtm). Dengan perkembangan ini, laju inflasi DKI Jakarta sejak awal tahun tercatat sebesar 1,35% (ytd) atau 3,70% (yoy). Deflasi yang dalam pada kelompok bahan makanan menahan dampak inflasi akibat pencabutan subsidi listrik pelanggan 900VA tahap II pada pelanggan pasca-bayar.

Turunnya harga pangan terutama bersumber dari harga bumbubumbuan, seperti cabai merah, bawang merah dan cabai rawit. Kondisi pasokan yang terus meningkat dan distribusi yang lancar menyebabkan harga terdorong ke bawah.

energi serta perkembangan harga-harga dan pantauan terhadap Mei 2017 Jakarta mengalami inflasi. Pencabutan subsidi listrik 900VA penyebabnya. Adapun perkembangan harga pangan akan menjadi sesuai polanya mendekati bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Untuk bahan-bahan pangan jelang bulan Ramadhan, berbagai persiapan antara lain pemetaan kebutuhan pangan serta manajemen stok 

1. Secara bulanan, DKI Jakarta mencatat deflasi 0,02% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan April tiga tahun terakhir, yaitu sebesar 0,01%. yang dalam pada kelompok dan relatif terkendalinya kelompok serta tercatat sebesar 3,70% (yoy).

  • Dari sisi disagregasi, turunnya harga sebagian besar kelompok volatile food menjadi faktor pendorong deflasi April 2017. Harga bumbu-bumbuan yang kembali turun menjadi penyebab utama deflasi volatile food. Harga cabai merah, bawang merah dan cabai rawit masing-masing mengalami penurunan sebesar 16,71% (mtm), 9,38% (mtm) dan 23,62% (mtm). Kondisi pasokan yang terus meningkat dan distribusi yang lancar menyebabkan tren penurunan harga berlanjut. Kebijakan Kementerian Perdagangan melalui penerapan harga eceran tertinggi (HET) pada minyak goreng, gula pasir dan daging beku turut berkontribusi terhadap penurunan harga masing-masing komoditas tersebut berturut-turut sebesar 3,67% (mtm), 4,54% (mtm), dan 3,63% (mtm). Selain itu, penurunan harga kembali terjadi pada komoditas beras. Indeks harga beras turun sebesar 0,03% (mtm).
  • Perkembangan stok pangan di DKI Jakarta tetap terjaga. Volume stok beras yang berada di PIBC (Pasar Induk Beras Cipinang) pada minggu ketiga April 2017 masih relatif stabil pada posisi 35.054 ton dari 34.617 ton pada akhir bulan sebelumnya. Stok daging potong oleh PD Dharma Jaya ada minggu ketiga April 2017 tercatat 149.432 kg, dan stok sapi hidup sebanyak 1.056 ekor sapi. Pasokan sayur-sayuran yang masuk ke DKI Jakarta kembali meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pasokan cabai merah TW (cabai merah besar) dan bawang merah ke PD Pasar Jaya masing-masing sebesar 687 ton dan 604 ton. Langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjaga kesinambungan dan manajemen stok pangan yang baik, serta ekspektasi masyarakat yang positif bahwa pemerintah mampu menjaga kestabilan harga pangan merupakan faktor-faktor pendukung terkendalinya harga di pasar.
  • Kenaikan inflasi kelompok administered prices, masih berlanjut pada April 2017. Kebijakan pemerintah terkait energi menjadi faktor pendorong utama meningkatnya inflasi pada kelompok ini. Pencabutan subsidi listrik pelanggan 900VA tahap II pada Maret 2017, masih memengaruhi tarif listrik April 2017, terutama untuk pengguna listrik pascabayar. Tarif listrik April 2017 mengalami kenaikan sebesar 1,71% (mtm). Selain itu, kenaikan harga bahan bakar khusus (BBK) seperti Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex masing-masing sebesar Rp 100/liter telah menyebabkan inflasi bensin sebesar 0,28% (mtm). Selanjutnya, kebijakan pemerintah menaikkan tarif cukai rokok rata-rata 10,54% pada tahun 2017, sebagaimana tertuang Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK.010/2016 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 179/PMK.011/3012 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau, direspons oleh pelaku usaha dengan menaikkan harga rokok secara bertahap setiap bulan. Untuk bulan April 2017 langkah tersebut telah mendorong kenaikan indeks harga rokok kretek dan rokok putih masing-masing sebesar 0,53% dan 0,40% (mtm). Namun, hal tersebut diikuti dengan turunnya biaya angkutan udara sebesar 2,97% (mtm), sehingga laju inflasi administered prices lebih lanjut dapat tertahan.
  • Adapun inflasi inti pada April 2017 bergerak relatif stabil, meski sedikit meningkat dari bulan . Dampak tidak langsung dari kebijakan pencabutan subsidi listrik 900VA tahap II pada Sementara itu, indeks harga emas perhiasan naik sebesar 1,87% (mtm), yang didorong oleh kenaikan harga emas internasional. Hal ini menjadi salah satu pendorong terjadinya inflasi pada kelompok inti.
  • Ekspektasi inflasi relatif menunjukkan kenaikandiperkirakan meningkat, mengingat masyarakat mulai mengantisipasi kenaikan permintaan dalam konsumen menganggap kondisi sekarang tetap baik, yang tercermin dari Indeks Keyakinan 

2. Secara tahunan, inflasi Ibukota tercatat sebesar 3,70% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya 3,43% (yoy). Berbagai langkah kebijakan akan ditempuh agar inflasi Jakarta tetap mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional 4%±1%. Untuk itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga terus berupaya untuk menjaga kestabilan harga pangan strategis, melalui manajemen stok yang baik dan proses pendistribusian bahan pangan ke masyarakat dengan rantai pasokan pangan yang efisien. Koordinasi pengendalian inflasi antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta dengan Pemprov. DKI Jakarta dalam wadah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta yang cukup intensif mendorong inflasi bahan makanan yang relatif terjaga, yaitu sebesar 2,97% (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 3,94% (yoy).

3. Memerhatikan kebijakan pemerintah terkait harga-harga komoditas energi serta perkembangan harga-harga dan pantauan terhadap beberapa komoditas di pasar-pasar di Jakarta, diprakirakan pada bulan Mei 2017 Jakarta mengalami inflasi. Penyesuaian subsidi listrik 900VA tahap III yang dilakukan pada awal Mei 2017 menjadi salah satu faktor penyebabnya. Adapun perkembangan harga pangan akan menjadi perhatian, karena terdapat potensi meningkatnya tekanan permintaan masyarakat, sesuai polanya mendekati bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

4. Dalam upaya menjaga tingkat inflasi tetap rendah dan stabil, terutama menjelang Hari Besar Kegamaan Nasional (HBKN), TPID Jakarta terus berkoordinasi dan mengembangkan strategi terobosan untuk menjamin keterjangkauan harga pangan. Terkait dengan hal itu, telah dilaksanakan beberapa kegiatan TPID pada April 2017, antara lain adalah: 1) FGD dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan perihal kebijakan tata niaga perdagangan dan program stabilisasi harga pangan pada 20 April 2017 ; 2) FGD dengan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, dan Artha Graha Peduli perihal program pengendalian harga melalui program pasar murah di DKI Jakarta pada 25,26 dan 27 April 2017); 4) Mengikuti pertemuan teknis secara mingguan (setiap hari Kamis) bersama instansi serta SKPD Provinsi DKI Jakarta yang tergabung dalam TPID dalam rangka persiapan program pengendalian harga selama HBKN 2017 serta pemantauan harga pangan strategis serta stok pangan di Jakarta; 5) Pasar murah dalam rangka pengendalian harga, yang diselenggarakan melalui PT Food Station Tjipinang Jaya.

Selain itu, TPID juga melakukan pemetaan kebutuhan bahan pangan masyarakat selama bulan puasa dan masa Lebaran. Hal ini penting untuk dapat mengetahui volume bahan pangan yang perlu tersedia bagi masyarakat. Berdasarkan hasil pemetaan ini telah disusun strategi manajemen stok pangan, pengadaan, serta distribusi bahan pangan pokok yang efektif. Koordinasi dengan berbagai instansi terkait (BUMD, Pemerintah Pusat, dan pelaku usaha swasta) sebagaimana telah disebutkan di atas semakin intens dilakukan dalam rangka menghadapi meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Dengan berbagai upaya tersebut Jakarta akan lebih siap melayani kebutuhan pangan pokok masyarakat selama periode tersebut, yaitu cukup tersedianya bahan pangan pokok, baik secara kuantitas maupun kualitas, dan dengan harga yang terjangkau. Hal tersebut selanjutnya akan memberikan dampak yang positif, yaitu tetap terjaganya inflasi Jakarta secara khusus, dan inflasi nasional secara umum.

Berbagai terobosan yang dilakukan oleh TPID Jakarta, telah diakui sukses mengawal inflasi pangan di Provinsi DKI Jakarta. Hal tersebut mendorong TPID dari berbagai daerah untuk belajar dari apa yang telah dikembangkan oleh TPID Jakarta. Terkait dengan hal tersebut TPID DKI Jakarta telah diundang sebagai pembicara dalam acara optimalisasi BUMD khususnya pangan dalam perekonomian Sulawesi Barat yang diselenggarakan oleh TPID Sulawesi Barat (20 April 2017).

 

Komentar Tentang Berita Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta Periode April 2017

Load More
Loading... sedang mengambil data...