Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta Periode Mei 2017

 19 June 2017

Memasuki bulan Ramadhan, tekanan inflasi DKI Jakarta mulai meningkat, namun masih terkendali. Meningkatnya permintaan masyarakat saat awal Ramadhan, terkait aktivitas konsumsi bulan Ramadhan dan persiapan Hari Raya Idul Fitri, mendorong inflasi Mei 2017 mencapai 0,49% (mtm). Perkembangan kenaikan harga-harga yang disertai penyesuaian harga administered prices dan tarif rumah sakit mengakibatkan inflasi bulan ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata historis inflasi satu bulan sebelum Idul Fitri dalam tiga tahun sebelumnya, yaitu 0.43% (mtm). Pencapaian tersebut juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan inflasi nasional (0,39% mtm). Dengan perkembangan ini, laju inflasi DKI Jakarta sejak awal tahun tercatat sebesar 1,85% (ytd) atau 4,00% (yoy).

 Memerhatikan pola pergerakan harga-harga, dan kebijakan pemerintah di bidang harga, tekanan inflasi pada Juni 2017 diprakirakan kembali meningkat. Konsumsi masyarakat terhadap bahan pangan dan jasa transportasi akan mengalami puncaknya pada bulan tersebut, seiring dengan kian dekatnya perayaan Hari Raya Idul Fitri yang dimanfaatkan untuk berlibur dan melakukan aktivitas mudik. Tekanan inflasi akan bertambah dengan adanya dampak lanjutan dari penyesuaian subsidi listrik 900VA tahap III yang dilakukan pada Mei 2017 pada pelanggan pascabayar.

5. Menuju perayaan Idul Fitri yang jatuh pada akhir Juni 2017, berbagai persiapan telah dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jakarta. Melalui BUMD pangan, pemenuhan pasokan terus dilakukan demi menjaga keseimbangan antara permintaan dan pasokan di DKI Ibukota. Kegiatan penunjang seperti pasar murah akan terus dilakukan di berbagai kelurahan di DKI Jakarta. Selain itu, penggunaan mesin Controlled Atmosphere Storage (CAS) sebagai buffer stock komoditas hortikultura juga akan membantu menahan gejolak harga, utamanya bawang merah dan cabai merah. Berbagai sidak baik penimbunan maupun kesehatan pangan juga secara rutin dilakukan. Dengan berbagai upaya tersebut Jakarta akan siap melayani kebutuhan pangan pokok masyarakat selama bulan Ramadhan dan Lebaran secara cukup dalam kuantitas, terjaga kualitasnya dan terjangkau harganya 

1. Secara bulanan, DKI Jakarta mencatat inflasi sebesar 0,49% (mtm). Pencapaian tersebut juga lebih tinggi dari  rata-rata inflasi H-1 bulan sebelum Lebaran pada tiga tahun sebelumnya, yaitu sebesar 0,43%. Inflasi Jakarta pada Mei 2017 disebabkan oleh inflasi pada seluruh kelompoknya pembentuknya. Dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, inflasi Jakarta pada Mei 2017 tercatat sebesar 4,00% (yoy).

  •  Dari sisi disagregasi, naiknya harga sebagian besar kelompok volatile food menjadi faktor utama pendorong inflasi Mei 2017. Memasuki bulan Ramadhan, harga telur ayam naik sebesar 7,00% (mtm), seiring tingginya permintaan telur sebagai bahan baku membuat kue untuk keperluan Ramadhan. Komoditas pangan lain yang terpantau mengalami kenaikan akibat naiknya permintaan adalah daging ayam ras (3,46% mtm) dan daging sapi (5,57% mtm).  Sementara itu, bawang putih mengalami kenaikan harga yang sangat tinggi (19,79% mtm) akibat berkurangnya pasokan impor dari Tiongkok menyusul mundurnya jadwal panen dari April ke Mei/Juni. Di samping itu, adanya beberapa praktik penimbunan menambah dorongan kenaikan harga bawang putih. Walau demikian, harga beras masih terpantau relatif stabil, hanya mengalami inflasi sebesar 0,19% (mtm). Harga beras yang stabil membantu menahan gejolak harga pangan yang berlebih.
  •  Perkembangan stok pangan di DKI Jakarta masih terjaga. Volume stok beras yang berada di PIBC (Pasar Induk Beras Cipinang) pada minggu keempat April 2017 meningkat pada posisi 40.301 ton dari 35.154 ton pada akhir bulan sebelumnya. Stok daging potong oleh PD Dharma Jaya pada minggu keempat Mei 2017 tercatat 106.528 kg, dan stok sapi hidup sebanyak 1.719 ekor sapi. Pasokan sayur-sayuran yang masuk ke DKI Jakarta relatif stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pasokan cabai merah TW (cabai merah besar) dan bawang merah ke PD Pasar Jaya masing-masing sebesar 688 ton dan 581 ton.
  •  Sejalan dengan kelompok volatile food, inflasi inti juga mengalami kenaikan, walau masih terbatas. Komoditas yang tergabung pada kelompok pengeluaran makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau serta kesehatan, merupakan pendorong utama kenaikan inflasi inti. Kenaikan harga bahan baku daging ayam ras dan telur ayam, menyebabkan harga produk turunannya seperti nasi dengan lauk mengalami kenaikan sebesar 0,98% (mtm). Kenaikan juga disebabkan oleh dorongan permintaan kue-kue seperti biskuit dan kue kering dalam rangka persiapan hari raya. Selain karena dorongan permintaan, kenaikan harga komoditas-komoditas tersebut juga didorong oleh meningkatnya harga bahan baku. Dari kelompok pengeluaran kesehatan, naiknya tarif rumah sakit sebesar 4,07% (mtm), turut menambah tekanan inflasi dari kelompok inti.
  •  Inflasi juga dipicu oleh naiknya beberapa komoditas pada kelompok administered prices. Kebijakan pemerintah melakukan penyesuaian subsidi listrik 900VA tahap III yang berlaku Mei 2017, menyebabkan tarif listrik dalam keranjang IHK meningkat sebesar 0,70% (mtm). Selain itu, adanya kenaikan harga beberapa bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, menyebabkan bensin dan solar mengalami kenaikan sebesar 0,89% (mtm) dan 0,14% (mtm). Penyesuaian harga juga terjadi pada komoditas rokok menyusul kenaikan tarif cukai rokok yang ditetapkan pada awal tahun. Sementara itu, adanya beberapa libur panjang pada bulan Mei 2017, mendorong masyarakat untuk melakukan kegiatan perjalanan ke luar kota (berlibur), yang kini mulai banyak memanfaatkan jasa angkutan udara. Meningkatnya pembelian tiket pesawat untuk keperluan berlibur ke luar kota mendorong tarif angkutan udara yang mengalami kenaikan sebesar 2,89% (mtm).
  •  Ekspektasi inflasi relatif tidak menunjukkan banyak perubahan. Inflasi dalam jangka 3 bulan dan 6 bulan ke depan diperkirakan tetap terkendali di tengah masuknya bulan Puasa dan Ramadhan. Masyarakat sudah terinformasi cukup baik tentang kebijakan pemerintah terkait penyesuaian tarif listrik, yang dampaknya tidak terlalu tinggi dalam keranjang inflasi. Selain itu, konsumen menganggap kondisi sekarang tetap baik, yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang meningkat dan tetap berada pada zona optimis (di atas 100). Keyakinan konsumen yang baik, juga didukung oleh pertumbuhan PDRB tw I yang tumbuh cukup tinggi.

2. Secara tahunan, inflasi Ibukota tercatat sebesar 4,00% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya 3,70% (yoy). Berbagai langkah kebijakan akan ditempuh agar inflasi Jakarta tetap mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional 4%±1%. Untuk itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga terus berupaya untuk menjaga kestabilan harga pangan strategis, melalui manajemen stok yang baik dan proses pendistribusian bahan pangan ke masyarakat dengan rantai pasokan pangan yang efisien. Inflasi bahan makanan pada Mei 2017 tercatat sebesar 3,04% (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata H-1 bulan sebelum lebaran tiga tahun sebelumnya (8,46% yoy).

3. Memerhatikan pola pergerakan harga-harga, dan kebijakan pemerintah di bidang harga, tekanan inflasi pada Juni 2017 diprakirakan kembali meningkat. Konsumsi masyarakat terhadap bahan pangan dan jasa transportasi akan mengalami puncaknya pada bulan tersebut, seiring dengan kian dekatnya perayaan Hari Raya Idul Fitri yang dimanfaatkan untuk berlibur dan melakukan aktivitas mudik. Tekanan inflasi akan bertambah dengan adanya dampak lanjutan dari penyesuaian subsidi listrik 900VA tahap III yang dilakukan pada Mei 2017 pada pelanggan pascabayar.

4. Pada Mei 2017, TPID DKI Jakarta melakukan berbagai persiapan untuk mengawal perkembangan harga-harga sepanjang Ramadhan tahun 2017. Terkait dengan hal itu, telah dilaksanakan beberapa kegiatan TPID pada Mei 2017, antara lain adalah: 1) High Level Meeting TPID DKI Jakarta dalam rangka membahas persiapan dan program pengendalian harga selama Ramadhan 2017 (10 Mei 2017);  2) Kunjungan studi banding dari TPID Provinsi Jawa Tengah dalam rangka membahas efisiensi rantai dan tata niaga pangan (12 Mei 2017); 3) Mengikuti undangan gerakan stabilisasi pangan yang diadakan oleh Bulog dan Menteri Perdagangan  (17 Mei 2017); 4) Peninjauan pasokan serta media gathering bersama Plt. Gubernur DKI Jakarta dalam rangka penyampaian program TPID DKI Jakarta dalam menjaga inflasi bulan Ramadhan di DKI Jakarta (17 Mei 2017); 5) Mengikuti pertemuan teknis secara mingguan (setiap hari Kamis) bersama instansi serta SKPD Provinsi DKI Jakarta yang tergabung dalam TPID dalam rangka pemantauan harga pangan strategis serta stok pangan di Jakarta. Pertemuan juga membahas persiapan menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional 2017; 6) Sidak penimbunan pangan dan kualitas pangan sejak H-2 Minggu sebelum puasa; 7) Pasar murah dalam rangka pengendalian harga, utamanya diselenggarakan melalui PT Food Station Tjipinang Jaya.

5. Menuju perayaan Idul Fitri yang jatuh pada akhir Juni 2017, TPID DKI Jakarta semakin intens dalam menjalankan program kestabilan harga pangan. Melalui BUMD pangan, pemenuhan pasokan akan terus dilakukan demi menjaga keseimbangan antara permintaan dan pasokan di DKI Ibukota. Kegiatan penunjang seperti pasar murah akan terus dilakukan di berbagai kelurahan di DKI Jakarta, antara lain di 70 kelurahan dan melalui Festival Jakarta Great Sale. Selain itu, penggunaan mesin Controlled Atmosphere Storage (CAS) sebagai buffer stock komoditas hortikultura yang akan diresmikan pada 6 Juni 2017, juga akan membantu menahan gejolak harga, utamanya bawang merah dan cabai merah. Berbagai sidak baik penimbunan maupun kesehatan pangan juga secara rutin dilakukan. Dengan berbagai upaya tersebut Jakarta akan siap melayani kebutuhan pangan pokok masyarakat selama bulan Ramadhan dan Lebaran secara cukup dalam kuantitas, terjaga kualitasnya dan terjangkau harganya 

 

Komentar Tentang Berita Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta Periode Mei 2017

Load More
Loading... sedang mengambil data...