Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta Bulan September

 24 November 2017

Pencapaian inflasi di DKI Jakarta pada September 2017 semakin terkendali. Pada bulan ini inflasi tercatat sebesar 0,05% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata historis inflasi dalam tiga tahun sebelumnya (0,12% mtm), maupun inflasi nasional (0,13% mtm). Dengan perkembangan ini laju inflasi sejak awal tahun 2017 baru mencapai 2,91% (ytd) atau 3,69% (yoy). Rendahnya inflasi ibukota pada bulan ini didukung oleh terkendalinya inflasi komoditas inti dan administered prices, dan deflasi pada kelompok volatile food.

 

Terkendalinya inflasi DKI Jakarta terutama disumbangkan oleh deflasi volatile food, yang disebabkan oleh koreksi harga pada komoditas yang tergabung pada subkelompok bumbu-bumbuan, serta daging dan hasil-hasilnya. Terkendalinya inflasi juga didukung oleh berbagai komoditas yang tergabung dalam kelompok administered prices, yang pada bulan September mengalami inflasi relatif stabil. Pencapaian inflasi September 2017 yang terkendali turut didukung oleh stabilnya inflasi kelompok inti, seiring tiadanya momen khusus yang mendorong permintaan berlebih selama bulan September. 

 

Memerhatikan pola pergerakan harga-harga di pasar, tekanan inflasi pada bulan Oktober hingga akhir tahun 2017 diprakirakan akan tetap terkendali. Tidak adanya hari raya dan event tertentu pada Oktober telah membawa inflasi bergerak relatif stabil. Adapun tekanan inflasi hanya terdapat pada akhir tahun 2017, yang bertepatan dengan perayaan Natal dan tahun baru 2018. Walau demikian, risiko kenaikan harga pangan perlu terus diwaspadai, kendati harga pangan di DKI Jakarta saat ini masih terpantau rendah. Dampak penerapan harga eceran tertinggi (HET) untuk beras juga perlu terus dievaluasi, terutama terkait dengan kecukupan pasokan.

 

  1. Secara bulanan, DKI Jakarta tercatat inflasi sebesar 0,05% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan awal yang sebesar 0,15% dan rata-rata tiga tahun terakhir, yaitu sebesar 0,12% (mtm). Terkendalinya inflasi Jakarta pada September 2017 disebabkan oleh deflasi yang cukup dalam pada kelompok volatile food, terkendalinya kelompok inflasi inti dan administered prices. Dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, inflasi Jakarta pada September 2017 tercatat sebesar 3,69% (yoy). 
  • Semakin terkendalinya inflasi DKI Jakarta didukung oleh kelompok volatile food yang tercatat mengalami deflasi. Hal tersebut disebabkan oleh koreksi harga pada komoditas yang tergabung pada subkelompok bumbu-bumbuan, serta daging dan hasil-hasilnya. Cabai merah, bawang merah dan cabai rawit masing-masing mengalami penurunan harga sebesar 4,62% (mtm), 0,92% (mtm) dan 11,36% (mtm). Faktor cuaca yang baik (kering) menyebabkan produksi tanaman hortikultura di daerah produsen melimpah, sehingga pasokan bumbu-bumbuan ke DKI Jakarta juga meningkat. Hal ini kemudian menyebabkan harga bergerak ke bawah. Selain itu, penurunan harga pada komoditas daging ayam (0,48% mtm) dan daging sapi (1,35% mtm) juga berkontribusi terhadap deflasi pada kelompok volatile food. Adapun harga beras masih relatif terjaga, seiring dengan implementasi harga eceran tertinggi (HET) oleh pemerintah untuk semua jenis kualitas beras. Harga beras saat ini hanya mengalami kenaikan sebesar 0,02% (mtm). 
  • Stok pangan di DKI Jakarta tetap terjaga. Volume stok beras yang berada di PIBC (Pasar Induk Beras Cipinang) pada minggu ketiga September 2017 masih relatif stabil pada posisi 47.703 ton dari 45.475 ton pada akhir bulan sebelumnya. Stok daging potong oleh PD Dharma Jaya pada minggu ketiga September 2017 tercatat 333.197 kg, dan stok sapi hidup sebanyak 1.603 ekor sapi. Pasokan sayur-sayuran yang masuk ke DKI Jakarta juga relatif stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pasokan cabai merah dan bawang merah ke PD Pasar Jaya masing-masing sebesar 810 ton dan 598 ton. Langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjaga kesinambungan dan manajemen stok pangan yang baik, serta ekspektasi masyarakat yang positif bahwa pemerintah mampu menjaga kestabilan harga pangan merupakan faktor-faktor pendukung terkendalinya harga komoditas di pasar.
  • Terkendalinya inflasi juga didukung oleh berbagai komoditas yang tergabung dalam kelompok administered prices, yang pada bulan September mengalami inflasi relatif stabil. Perayaan Hari Raya Idul Adha serta tahun baru Islam yang dimanfaatkan untuk berlibur panjang, tidak berdampak pada gejolak harga transportasi yang berlebih. Hal ini terlihat dari pergerakan harga moda angkutan udara yang tercatat mengalami inflasi hanya sebesar 0,54% (mtm). Kenaikan inflasi administered prices juga disumbangkan oleh kenaikan harga rokok, terutama rokok kretek (0,96% mtm) dan rokok kretek filter (0,88% mtm) yang masih terkait dengan kenaikan cukai rokok pada awal tahun.
  • Pencapaian inflasi September 2017 yang terkendali turut didukung oleh stabilnya inflasi kelompok inti, seiring tidak adanya momen khusus yang mendorong permintaan berlebih selama bulan September 2017. Adapun kenaikan hanya terjadi pada upah pembantu rumah tangga (2,50% mtm) dan harga emas perhiasan (1,71% mtm), yang didorong oleh naiknya harga emas internasional. Angkutan udara kembali mengalami kenaikan harga, walau relatif terbatas, yaitu sebesar 0,54% (mtm). Langkah beberapa maskapai udara dalam menjual tiket ekonomi dengan range harga tinggi, mendorong kenaikan rata-rata harga tiket secara keseluruhan.
  • Ekspektasi inflasi relatif stabil. Ekspektasi inflasi relatif tidak menunjukkan banyak perubahan. Inflasi dalam jangka 3 bulan dan 6 bulan ke depan diperkirakan tetap terkendali, seiring berakhirnya Idul Fitri 2017. Konsumen menganggap kondisi sekarang tetap baik, yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang meningkat dan tetap berada pada zona optimis (di atas 100).

2. Secara tahunan, inflasi Ibukota tercatat sebesar 3,69% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya (3,82% yoy). Penguatan koordinasi Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi DKI serta BUMD di bidang pangan melalui TPID akan selalu digalakkan untuk mencapai inflasi yang rendah dan stabil pada tahun 2017. Berbagai program TPID harus selaras dengan program-program kerja di Bank Indonesia dan masing-masing SKPD Pemerintah Provinsi dan instansi terkait lainnya, terutama yang menyangkut ketahanan pangan dan kelancaran distribusi pangan. Koordinasi yang baik juga sangat diperlukan dalam sinkronisasi kebijakan, yang didukung dengan komitmen yang kuat dari berbagai pihak dalam menjalankan Roadmap Pengendalian Inflasi Jakarta, agar sasaran inflasi nasional sebesar 4% ± 1% dapat tercapai.  Pencapaian inflasi DKI Jakarta saat ini masih dalam sasaran inflasi nasional. Adapun inflasi bahan makanan saat ini sebesar 1,38% (yoy).

3. Dalam upaya menjaga tingkat inflasi tetap rendah dan stabil, TPID Jakarta terus berkoordinasi dan mengembangkan strategi terobosan untuk menjamin keterjangkauan harga pangan. Adapun beberapa kegiatan TPID DKI Jakarta sepanjang September 2017, antara lain adalah: 1)Menerima kunjungan studi banding dari TPID Humbang Hasundutan pada 31-1 September 2017. TPID Humbang Hasundutan belajar cara pengelolaan dan pemanfaatan mesin CAS dalam pengendalian inflasi di DKI Jakarta. ; 2) Peresmian JakGrosir pada 8 September 2017. JakGrosir merupakan inovasi dari TPID DKI Jakarta dalam menyediakan produk pangan dan kebutuhan rumah tangga lainnya dengan harga murah kepada para pedagang pasar tradisional di DKI Jakarta. Dengan mendapatkan harga yang lebih murah, pedagang retail dapat menjualnya juga dengan harga yang lebih murah. Selain diliput oleh berbagai media regional dan nasional, peresmian tersebut juga dikomunikasi melalui radio; 3) Narasumber dalam rakorda TPID wilayah Kalimantan Barat pada 12 September 2017. TPID DKI Jakarta berbagi pengalaman tentang pengendalian inflasi serta business model yang dijalankan saat ini 4) FGD dengan Kementerian Energi dan SDM, Pertamina dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk pada 8,11, dan 14 September 2017. FGD ini dilakukan untuk mendalami isu terkini dari perkembangan harga energi tingkat nasional serta kebijakan angkutan udara di Indonesia. Untuk perkembangan harga energi, Kementrian Energi dan Pertamina memprakirakan bahwa tidak akan ada kenaikan harga energi, terutama harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun 2017 maupun tahun 2018. Adapun faktor kenaikan harga tiket pesawat yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir terkonfirmasi dari FGD dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Kenaikan harga tiket pesawat dalam beberapa bulan terakhir disebabkan oleh langkah para maskapai udara menutup kelas penerbangan ekonomi untuk jenis harga menengah bawah, terutama untuk rute penerbangan yang ramai. Langkah ini menyebabkan harga tiket pesawat secara rata-rata meningkat, karena tiket ekonomi yang dijual adalah jenis harga tiket menengah-atas 5) Menerima kehadiran TPID Jawa Timur untuk mempelajari pengelolaan BUMD Pangan, penggunaan mesin CAS dan mempertemukan dengan BUMD Pangan Jawa Timur untuk menindaklanjuti kerjasama perdagangan.

Memerhatikan pola pergerakan harga-harga di pasar, tekanan inflasi pada bulan Oktober hingga akhir tahun 2017 diprakirakan akan tetap terkendali. Tidak adanya hari raya dan event tertentu pada Oktober akan membawa inflasi bergerak relatif stabil. Adapun tekanan inflasi hanya terdapat pada akhir tahun 2017, yang bertepatan dengan perayaan Natal dan tahun baru 2018. Walau demikian, risiko kenaikan harga pangan perlu terus diwaspadai, kendati harga pangan di DKI Jakarta saat ini masih terpantau rendah. Dampak penerapan HET untuk beras juga perlu terus dievaluasi, terutama terkait dengan kecukupan pasokan

 

Komentar Tentang Berita Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta Bulan September

Load More
Loading... sedang mengambil data...