Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta Periode Agustus 2017

 04 October 2017

Penurunan tekanan inflasi di DKI Jakarta masih berlanjut, setelah melalui periode Idul Fitri pada bulan Juni dan Juli. Pada Agustus 2017 inflasi DKI Jakarta turun menjadi 0,13% (mtm), dan tercatat lebih rendah dari rata-rata tiga tahun sebelumnya (0,34% mtm). Meredanya tekanan inflasi di Ibukota terutama disumbangkan oleh deflasi pada kelompok volatile food dan terkendalinya inflasi kelompok inti. Sementara itu, inflasi pada kelompok administered prices mengalami sedikit kenaikan. Dengan perkembangan ini, laju inflasi sejak awal tahun 2017 mencapai 2,86% (ytd). 

 Memerhatikan pola pergerakan harga-harga komoditas di pasar, tekanan inflasi pada bulan September hingga akhir tahun 2017 diprakirakan akan tetap terkendali. Perayaan Idul Adha yang jatuh pada 1 September 2017 diperkirakan tidak diikuti dengan kenaikan harga-harga yang tinggi secara umum. Adapun tekanan inflasi hanya terdapat pada akhir tahun 2017, yang bertepatan dengan perayaan Natal dan Tahun Baru 2018. 

Penguatan koordinasi Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi DKI serta BUMD melalui TPID akan selalu digalakkan untuk mencapai inflasi yang rendah dan stabil pada tahun 2017. Koordinasi yang baik juga sangat diperlukan dalam sinkronisasi kebijakan, yang didukung dengan komitmen yang kuat dari berbagai pihak dalam menjalankan Roadmap Pengendalian Inflasi Jakarta, agar sasaran inflasi nasional sebesar 4% ± 1% dapat tercapai. 

1. Secara bulanan, DKI Jakarta tercatat inflasi sebesar 0,13% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan awal yang sebesar 0,25% dan  rata-rata tiga tahun terakhir, yaitu sebesar 0,34%. Inflasi Jakarta pada Agustus 2017 disebabkan oleh deflasi yang dalam pada kelompok volatile food dan terkendalinya kelompok inflasi inti. Sementara itu, inflasi pada kelompok administered prices mengalami sedikit kenaikan. Dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, inflasi Jakarta pada Agustus 2017 tercatat sebesar 3,82% (yoy). 

  • Deflasi pada kelompok volatile food terutama disebabkan oleh koreksi harga pada komoditas yang tergabung pada subkelompok pengeluaran bumbu-bumbuan. Bawang merah, cabai merah dan cabai rawit masing-masing mengalami deflasi sebesar 7,18% (mtm), 4,74% (mtm) dan 9,50% (mtm). Pasokan bumbu-bumbuan dan sayur-sayuran yang masuk ke DKI Jakarta cukup melimpah karena didukung oleh banyaknya wilayah produsen yang memasuki musim panen, sehingga harga terdorong turun. Harga beras dan komoditas daging-dagingan dan hasilnya masih terjaga. Adapun kenaikan harga garam, yang disebabkan oleh kelangkaan barang, tidak serta merta mendorong inflasi ke atas, mengingat bobotnya yang relatif kecil dalam keranjang IHK. Secara umum, bahan makanan mengalami deflasi sebesar 0,48% (mtm).  

Stok pangan di DKI Jakarta tetap terjaga. Volume stok beras yang berada di PIBC (Pasar Induk Beras Cipinang) pada minggu kelima Agustus 2017 masih relatif stabil pada posisi 45.475 ton dari 43.140 ton pada akhir bulan sebelumnya. Stok daging potong oleh PD Dharma Jaya pada minggu kelima Agustus 2017 tercatat 297.366 kg, dan stok sapi hidup sebanyak 3.397 ekor sapi. Pasokan sayur-sayuran yang masuk ke DKI Jakarta kembali meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pasokan cabai merah dan bawang merah ke PD Pasar Jaya masing-masing sebesar 839 ton dan 585 ton. Langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjaga kesinambungan dan manajemen stok pangan yang baik, serta ekspektasi masyarakat yang positif bahwa pemerintah mampu menjaga kestabilan harga pangan merupakan faktor-faktor pendukung terkendalinya harga komoditas di pasar.

  • Pada kelompok administered prices, komoditas transportasi terutama tarif angkutan udara pada Agustus 2017 tercatat mengalami inflasi. Masih tingginya animo masyarakat Ibukota untuk menggunakan transportasi udara pasca-periode Idul Fitri mendorong terjadinya kenaikan tarif sebesar 6,54% (mtm). Selain transportasi, kenaikan inflasi administered prices juga disumbangkan oleh kenaikan harga rokok, terutama rokok kretek filter (2,16% mtm) sebagai respons lanjutan dari kenaikan cukai rokok pada awal tahun. Perkembangan kedua komoditas ini menjadi sumber utama lebih tingginya inflasi DKI Jakarta jika dibandingkan dengan inflasi Nasional, yang pada bulan ini mencatat deflasi sebesar 0,07% (mtm).
  • Sementara itu, perkembangan inflasi Inti pada Agustus 2017 dapat terkendali di level yang rendah seiring tiadanya momen khusus yang mendorong permintaan berlebih selama bulan ini. Kenaikan harga terutama terjadi pada harga emas perhiasan sebesar 0,61% (mtm) seiring kenaikan harga emas internasional.
  • Ekspektasi inflasi relatif stabil. Ekspektasi inflasi relatif tidak menunjukkan banyak perubahan. Inflasi dalam jangka 3 bulan dan 6 bulan ke  depan diperkirakan tetap terkendali, seiring berakhirnya Lebaran 2017. Konsumen menganggap kondisi sekarang tetap baik, yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang meningkat dan tetap berada pada zona optimis (di atas 100). Keyakinan konsumen yang baik, juga didukung oleh pertumbuhan PDRB triwulan II yang tumbuh cukup baik. 

2. Secara tahunan, inflasi Ibukota tercatat sebesar 3,82% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya (3,69% yoy). Berbagai langkah kebijakan akan ditempuh agar inflasi Jakarta tetap mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional 4%±1%. Untuk itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga terus berupaya untuk menjaga kestabilan harga pangan strategis, melalui manajemen stok yang baik dan proses pendistribusian bahan pangan ke masyarakat dengan rantai pasokan pangan yang pendek. Koordinasi pengendalian inflasi antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta dengan Pemprov. DKI Jakarta dalam wadah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta yang cukup intensif telah membawa laju inflasi bahan makanan yang relatif terjaga, yaitu sebesar 2,03% (yoy), lebih rendah dari rata-rata tiga tahun sebelumnya (6,39% yoy).  

3. Dalam upaya menjaga tingkat inflasi tetap rendah dan stabil, TPID Jakarta terus berkoordinasi dan mengembangkan strategi terobosan untuk menjamin keterjangkauan harga pangan. Selain itu, pencapaian TPID DKI Jakarta sebagai TPID terbaik se-Jawa untuk periode tahun 2016, telah mendorong banyak TPID dari berbagai daerah untuk mempelajari strategi pengendalian inflasi yang telah dilakukan TPID Jakarta, melalui studi banding ke DKI Jakarta. Selain secara konsisten mengimplementasikan road map kegiatan TPID yang telah disusun, TPID Jakarta telah melaksanakan beberapa kegiatan pada Agustus 2017, antara lain adalah:

1)Menerima kunjungan studi banding dari TPID eks Karisidenan Pekalongan pada 2-3 Agustus 2017 ;

2) Rapat pengembangan Info Pangan Jakarta pada 7 Agustus 2017;

3) Penjajakan Kerjasama Corporate Farming dengan TPID Jogja dan Capacity Building anggota TPID DKI Jakarta pada 1011 Agustus 2017;

4) Rapat tim teknis TPID secara mingguan.

4. Memerhatikan pola pergerakan harga-harga komoditas di pasar, tekanan inflasi pada bulan September hingga akhir tahun 2017 diprakirakan akan tetap terkendali. Perayaan Idul Adha yang jatuh pada 1 September 2017 diperkirakan tidak diikuti dengan kenaikan harga-harga yang tinggi secara umum. Adapun potensi tekanan inflasi hingga akhir tahun 2017 terjadi pada akhir tahun 2017, yang bertepatan dengan perayaan Natal dan Tahun Baru 2018.

Komentar Tentang Berita Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta Periode Agustus 2017

Load More
Loading... sedang mengambil data...