Periode Oktober 2017 Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta

 24 November 2017

Inflasi di DKI Jakarta pada Oktober 2017 tetap terjaga. Pada bulan ini inflasi tercatat sebesar 0,06% (mtm),sedikit lebih tinggi dari inflasi nasional (0,01% mtm), namun pencapaian ini tetap lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata historis inflasi Oktober Ibukota dalam tiga tahun sebelumnya (0,20% mtm).  Dengan perkembangan ini, laju inflasi sejak awal tahun 2017 mencapai 2,97% (ytd) atau 3,49% (yoy). Terjaganya inflasi Ibukota pada bulan ini didukung terkendalinya inflasi inti dan deflasi pada kelompok volatile food dan administered prices.

 

Terkendalinya inflasi DKI Jakarta terutama disumbangkan oleh deflasi volatile food, yang disebabkan oleh koreksi harga pada komoditas yang tergabung pada subkelompok daging dan hasil-hasilnya, dan deflasi pada kelompok administered prices terutama berasal dari komoditas yang masuk dalam subkelompok transpor seperti angkutan udara dan kereta api. Selain itu, tidak adanya momen khusus yang mendorong permintaan berlebih selama bulan tersebut, menjadi faktor utama stabilnya kelompok inti

 

Memerhatikan pola pergerakan harga-harga di pasar, tekanan inflasi pada bulan November, inflasi hingga akhir tahun 2017 diprakirakan akan tetap terkendali. Tidak adanya hari libur dan event tertentu pada bulan November akan membawa inflasi bergerak relatif stabil. Adapun potensi tekanan inflasi hanya terdapat pada akhir tahun 2017, yang bertepatan dengan perayaan Natal dan tahun baru 2018. Walau demikian, risiko kenaikan harga pangan perlu terus diwaspadai, kendati harga pangan di DKI Jakarta saat ini masih terpantau rendah. Dampak penerapan HET untuk beras juga perlu terus dievaluasi, terutama terkait dengan kecukupan pasokan.

Secara bulanan, DKI Jakarta tercatat inflasi sebesar 0,06% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan awal yang sebesar 0,10% dan rata-rata tiga tahun terakhir, yaitu sebesar 0,20% (mtm). Terkendalinya inflasi Jakarta pada Oktober 2017 disebabkan oleh deflasi pada kelompok volatile food dan administered prices serta terkendalinya kelompok inflasi inti. Dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, inflasi Jakarta pada Oktober 2017 tercatat sebesar 3,49% (yoy). 

Terkendalinya inflasi DKI Jakarta didukung oleh kelompok volatile food yang kembali mengalami deflasi. Hal tersebut terutama disebabkan oleh koreksi harga pada komoditas yang tergabung dalam subkelompok daging dan hasil-hasilnya. Daging ayam ras dan daging sapi masing-masing mengalami penurunan harga, sebesar 3,73% (mtm) dan 3,70% (mtm). Pasokan yang melimpah di tingkat produsen serta terbatasnya permintaan akan produk daging pada bulan ini, menjadi penyebab utama turunnya harga daging ayam dan daging sapi. Beberapa komoditas pangan utama lainnya yang juga mengalami penurunan harga akibat pasokan yang melimpah, antara lain adalah telur ayam (2,84% mtm) dan bawang merah (3,24% mtm). Adapun harga beras masih relatif terjaga sejak diberlakukannya kebijakan harga eceran tertinggi (HET), walau saat ini mulai memasuki musim tanam. 

Stok pangan di DKI Jakarta tetap terjaga. Volume stok beras yang berada di PIBC (Pasar Induk Beras Cipinang) pada minggu keempat Oktober 2017 masih relatif stabil pada posisi 52.064 ton dari 50.588 ton pada akhir bulan sebelumnya. Stok daging potong oleh PD Dharma Jaya di Cakung (Rumah Potong Hewan terbesar di Jakarta) pada minggu keempat Oktober 2017 tercatat 442.052 kg, dan stok sapi hidup sebanyak 1.322 ekor sapi. Pasokan bawang merah yang masuk ke DKI Jakarta masih relatif stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya, namun cabai merah sedikit turun akibat meningkatnya curah hujan di daerah sentra, yang menyebabkan terbatasnya produksi. Pasokan bawang merah dan cabai merah ke PD Pasar Jaya masing-masing sebesar 637 ton dan 781 ton. Optimalisasi penggunaan mesin controlled atmosphere storage (CAS) yang dimiliki PD Pasar Jaya untuk buffer stock bawang merah dan cabai merah akan diupayakan untuk memitigasi risiko gejolak harga hortikultura yang lebih tinggi.

Terkendalinya inflasi DKI Jakarta didukung oleh kelompok administered prices yang juga tercatat mengalami deflasi. Tidak adanya hari libur panjang, yang kerap dimanfaatkan masyarakat untuk bepergian, pada bulan Oktober 2017 menjadi penyebab utama deflasi pada kelompok ini. Tarif angkutan udara dan tarif kereta api mengalami deflasi masing-masing sebesar 3,93% (mtm) dan 5,00% (mtm). Dengan demikian, subkelompok transpor mengalami deflasi sebesar 0,49% (mtm). Harga energi yang tetap stabil juga turut berkontribusi terhadap deflasi kelompok administered prices. Walau demikian, deflasi kelompok administered prices sedikit tertahan oleh kenaikan harga rokok akibat penyesuaian tarif cukai sejak awal tahun 2017.

Stabilnya inflasi kelompok inti turut mendukung pencapaian inflasi Oktober 2017 yang terjaga. Tidak adanya momen khusus yang mendorong permintaan berlebih selama bulan tersebut, menjadi faktor utama stabilnya kelompok inti. Beberapa komoditas utama yang tergabung dalam kelompok inti seperti harga sewa rumah dan kontrak rumah tidak mengalami perubahan, sedangkan harga emas perhiasan mengalami penurunan sebesar 0,06% (mtm). Perkembangan harga komoditas-komoditas tersebut menahan kenaikan harga pada barang-barang yang tergabung pada subkelompok makanan jadi seperti nasi dengan lauk (1,43% mtm) dan gado-gado (10,00% mtm) akibat penyesuaian harga bahan baku, antara lain sayur-sayuran yang mengalami kenaikan harga sebesar 1,41% (mtm).

Ekspektasi inflasi relatif stabil. Ekspektasi inflasi relatif tidak menunjukkan banyak perubahan. Inflasi dalam jangka 3 bulan dan 6 bulan ke depan diperkirakan tetap terkendali. Konsumen menganggap kondisi sekarang tetap baik, yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang meningkat dan tetap berada pada zona optimis (di atas 100).

Secara tahunan, inflasi Ibukota tercatat sebesar 3,49% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya (3,69% yoy). Penguatan koordinasi Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi DKI serta BUMD di bidang pangan melalui TPID DKI Jakarta akan selalu digalakkan untuk mencapai inflasi yang rendah dan stabil pada tahun 2017 dan tahun-tahun selanjutnya. Penguatan peran dan sinergitas ketiga BUMD bidang pangan perlu terus didorong oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui berbagai program yang tidak hanya semata-mata mengendalikan harga pangan di DKI Jakarta, namun juga dapat meningkatkan perekonomian bagi daerah pemasoknya. Harga pangan DKI Jakarta yang terkendali akan menjadi barometer pergerakan harga pangan nasional. Saat ini, inflasi bahan makanan tercatat sebesar 1,48% (yoy). Penguatan peran BUMD Pangan DKI Jakarta dalam pengendalian harga juga telah menginspirasi daerah lain untuk melakukan langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Jakarta. Tercapainya kestabilan inflasi akan mendorong pembangunan ekonomi Jakarta secara keseluruhan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam upaya menjaga tingkat inflasi tetap rendah dan stabil, TPID Jakarta akan terus berinovasi dalam upaya pengendalian harga-harga di Jakarta. Adapun beberapa kegiatan TPID DKI Jakarta sepanjang Oktober 2017, antara lain adalah: 1) Narasumber Rakorda TPID se-Sumatera Barat pada 5 Oktober 2017. Dalam Rakorda tersebut, TPID DKI Jakarta melakukan sharing terkait business model BUMD serta peran IT dalam pengendalian inflasi, dalam hal ini adalah Info Pangan Jakarta (IPJ). ; 2) Penjajakan kerjasama pasokan cabai merah keriting dengan TPID Jember dan TPID Banyuwangi pada 9-10 Oktober 2017. Penjajakan dilakukan untuk membentuk bufferstock cabai merah bagi DKI Jakarta dengan memanfaatkan mesin CAS. ; 3) Studi Banding pengelolaan wholesale market dan penjajakan kerjasama dengan China Agriculture Wholesale Market Association (CAWA), pada 23-24 Oktober 2017. Secara umum, studi Banding tersebut memberikan gambaran terhadap pentingnya pengelolaan rantai tataniaga pasar induk dalam mengelola pasokan dan pengendalian harga pangan di Tiongkok. Strategi ketahanan/kedaulatan pangan perlu ditingkatkan  agar stabilitas harga pangan terjaga. Selain itu, di setiap daerah di Tiongkok, terdapat biro pengendalian harga yang berfungsi untuk menjaga volatilitas harga barang dan jasa secara keseluruhan, sehingga inflasi dapat lebih terkendali.4) Mengadakan pertemuan teknis secara mingguan (setiap hari Kamis) bersama instansi serta SKPD Provinsi DKI Jakarta yang tergabung dalam TPID dalam rangka pemantauan harga pangan strategis serta stok pangan di Jakarta.

Memerhatikan pola pergerakan harga-harga di pasar, tekanan inflasi pada bulan November, inflasi hingga akhir tahun 2017 diprakirakan akan tetap terkendali. Tidak adanya hari libur dan event tertentu pada bulan November akan membawa inflasi bergerak relatif stabil. Adapun potensi tekanan inflasi hanya terdapat pada akhir tahun 2017, yang bertepatan dengan perayaan Natal dan tahun baru 2018. Walau demikian, risiko kenaikan harga pangan perlu terus diwaspadai, kendati harga pangan di DKI Jakarta saat ini masih terpantau rendah. Dampak penerapan HET untuk beras juga perlu terus dievaluasi, terutama terkait dengan kecukupan pasokan.

Komentar Tentang Berita Periode Oktober 2017 Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta

Load More
Loading... sedang mengambil data...