Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta Periode November 2018

 13 December 2018

Mendekati akhir tahun 2018, inflasi DKI Jakarta cenderung mengalami kenaikan. Inflasi ibukota pada November 2018 tercatat sebesar 0,30% (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional (0,27% mtm), maupun terhadap rata-rata tiga tahun sebelumnya (0,15% mtm). Dengan demikian, laju inflasi ibukota tercatat sebesar 2,66% (ytd) atau 3,33% (yoy). Inflasi terutama disebabkan kenaikan harga bahan makanan. Memerhatikan pola perkembangan harga-harga di Jakarta hingga akhir November 2018, inflasi pada bulan Desember 2018 mendatang diperkirakan meningkat sesuai dengan polanya.

Adanya perayaan Hari Natal serta Tahun Baru 2019 akan menjadi faktor pendorong meningkatnya permintaan barang dan jasa secara umum. Gejolak harga yang perlu diperhatikan adalah tekanan harga transportasi dan harga bahan makanan. Dinamika harga-harga di Jakarta dapat memengaruhi kinerja kestabilan harga secara nasional, mengingat cukup besarnya kontribusi Jakarta. Berbagai perkembangan harga DKI Jakarta telah menjadi barometer pergerakan harga nasional, sehingga sangat penting untuk mengendalikan berbagai gejolak harga yang ada di ibukota. Tercapainya kestabilan inflasi di Jakarta akan mendorong pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Jakarta secara khusus, dan nasional secara umum. 

Penguatan koordinasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui TPID, sangat diperlukan untuk memastikan tetap terkendalinya inflasi tahun 2018 sesuai dengan sasaran inflasi nasional 3,5% ± 1.

Grafik 1. Inflasi November Berdasarkan Kelompok Pengeluaran VS Rata-rata 3 tahun sebelumnya

? Secara bulanan, IHK November 2018 mencatat inflasi sebesar 0,30% (mtm). Level tersebut lebih tinggi dari perkiraan awal inflasi sebesar 0,23% (mtm). Inflasi DKI Jakarta pada bulan November 2018 terbesar terjadi pada kelompok bahan makanan. Inflasi DKI Jakarta saat ini lebih tinggi dari inflasi nasional (0,27% mtm), dan rata-rata tiga tahun sebelumnya (0,15% mtm). Dengan perkembangan ini, laju inflasi DKI Jakarta sejak awal tahun tercatat sebesar 2,66% (ytd).

? Kelompok bahan makanan mengalami inflasi sebesar 0,62% (mtm) dan berkontribusi sebesar 0,11% terhadap inflasi November 2018. Kenaikan harga kelompok bahan makanan terutama disebabkan meningkatnya harga cabai merah dan beras, seiring dengan berkurangnya pasokan yang masuk ke DKI Jakarta dari berbagai daerah sentra. Khusus untuk beras, pasokan yang menipis hanya beras tipe medium. Selain itu, masuknya musim hujan turut menyebabkan turunnya produktivitas ayam petelur, sehingga pasokan berkurang dan menyebabkan harga telur ayam ras juga meningkat. Untuk menahan laju kenaikan harga beras lebih jauh, pemerintah melakukan operasi pasar beras tipe medium di Pasar Induk Beras Cipinang pada pertengahan November.

? Pasokan pangan DKI Jakarta selama November 2018 masih berlimpah. Volume stok beras yang berada di PIBC (Pasar Induk Beras Cipinang) pada minggu keempat November 2018 tercatat sebesar 53.490 ton, meningkat dari akhir bulan sebelumnya (48.912 ton), dan berada jauh di atas batas aman 25.000 ton. Walau demikian, beras yang masuk mayoritas adalah tipe premium. Terbatasnya jumlah pasokan beras medium, menyebabkan harga beras medium di pasar meningkat, dan mendorong harga beras keatas secara keseluruhan. Stok daging potong di PD Dharma Jaya pada minggu keempat November 2018 tercatat 65.036 kg, dan stok sapi hidup sebanyak 1.298 ekor sapi. Adapun pasokan sayur-sayuran yang masuk ke DKI Jakarta, terutama pasokan cabai merah dan bawang merah, ke Pasar Induk Kramat Jati masing-masing sebesar 937 ton dan 575 ton.

? Inflasi DKI Jakarta juga disumbangkan oleh kenaikan harga bensin nonsubsidi dan tarif angkutan udara. Kenaikan harga bensin nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamina Dex pada Oktober 2018, masih memberikan dampak lanjutan terhadap kenaikan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan pada November 2018. Selain harga BBM nonsubsidi, kenaikan harga tarif angkutan udara juga turut memiliki andil dalam mendorong inflasi kelompok ini. Menjelang akhir tahun, kegiatan ekonomi terutama korporasi cenderung tinggi, yang juga diikuti aktivitas perjalanan ke luar kota.

Aktivitas tersebut terutama terjadi pada bulan November, dan diperkirakan mereda ketika memasuki minggu ketiga Desember. Dengan kondisi ini permintaan masyarakat akan jasa penerbangan untuk keperluan berpergian keluar kota meningkat. Permintaan akan jasa transportasi diperkirakan tetap tinggi pada Desember, namun akan lebih didominasi untuk kegiatan berlibur dalam rangka menyambut Natal dan tahun baru. Berbagai perkembangan tersebut membawa kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 0,15% (mtm).

? Kenaikan harga barang-barang yang tergabung pada kelompok sandang dan kelompok kesehatan,turut mendorong inflasi pada November 2018. Tren kenaikan harga emas internasional telah memicu naiknya harga emas perhiasan di Jakarta. Kondisi tersebut selanjutnya mendorong kenaikan harga secara umum pada kelompok sandang, sehingga tercatat mengalami inflasi sebesar 0,56% (mtm). Pada kelompok kesehatan, kenaikan harga barang terutama berasal dari barang-barang perawatan jasmani dan kosmetika, seperti sabun mandi, pasta gigi dan parfum. Berbagai perkembangan harga tersebut menyebabkan kelompok kesehatan mencatat inflasi sebesar 0,84% (mtm).

? Ekspektasi inflasi masyarakat masih tetap terjaga. Ekspektasi inflasi masyarakat cenderung terkendali dalam jangka waktu 3 bulan dan 6 bulan kedepan. Terkendalinya ekspektasi mendukung stabilitas inflasi sampai dengan akhir tahun 2018. Konsumen menganggap kondisi perekonomian sekarang masih baik, yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang meningkat dan tetap berada pada zona optimis (di atas 100).

? Secara tahunan, inflasi Ibukota tercatat sebesar 3,33% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan rata- rata 3 tahun sebelumnya (3,84% yoy). Dinamika harga-harga di Jakarta dapat memengaruhi kinerja kestabilan harga secara nasional, mengingat cukup besarnya peran Jakarta dalam perkembangan inflasi nasional. Hal ini tampak jelas dalam perkembangan harga pangan. Harga pangan DKI Jakarta telah menjadi barometer pergerakan harga pangan nasional, sehingga sangat penting mengendalikan harga pangan di Jakarta. Harga pangan DKI Jakarta yang terkendali akan menjadi barometer pergerakan harga pangan nasional. Saat ini, inflasi kelompok bahan makanan tercatat sebesar 5,13% (yoy).

? Untuk dapat terus mengawal kinerja inflasi di Provinsi DKI Jakarta, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta terus menguatkan koordinasi antarinstansi, dan berinovasi untuk mengedalikan berbagai gejolak harga yang ada. Adapun beberapa kegiatan yang dilakukan TPID DKI Jakarta pada November 2018 antara lain:

? TPID DKI Jakarta menerima kunjungan studi banding TPID Sulawesi Selatan (7-8 November 2018) dan TPID Sumatera Utara (26-27 November 2018) terkait optimalisasi peran BUMD dalam menjaga inflasi daerah. Inti dari model bisnis ini telah menjadi banyak percontohan daerah lain, dengan berbagai penyesuaian dengan karakteristik daerah masing-masing.

? Penjajakan kerjasama pasokan beras dengan TPID Purwokerto dan TPID Cilacap pada 5-7 November 2018. Untuk memperkuat koordinasi lintas sektor serta penguatan kerjasama penyediaan pangan, maka TPID Jakarta melakukan penjajakan bersama TPID Purwokerto, dengan salah satu agenda pertemuannya adalah menginisiasi dan melakukan penjajakan kerjasama antardaerah dengan komoditas utama beras. Dipilihnya daerah Cilacap sebagai lokasi kunjungan tidak terlepas dari besarnya potensi pertanian beras

? Rapat koordinasi TPID secara mingguan merupakan agenda rutin yang sangat penting untuk memantau perkembangan harga, dan menyiapkan langkah-langkah strategis sejak dini untuk mengantisipasi kecenderungan kenaikan harga.

? Memerhatikan pola perkembangan harga-harga di Jakarta hingga akhir November 2018, inflasi pada bulan Desember 2018 mendatang diperkirakan meningkat sesuai dengan polanya. Masuknya Hari Natal serta Tahun Baru 2019 menjadi faktor pendorong meningkatnya permintaan barang dan jasa secara umum. Gejolak harga yang perlu diperhatikan adalah tekanan harga transportasi dan harga bahan makanan.

? Tercapainya kestabilan inflasi di Jakarta, merupakan faktor penentu tercapainya kestabilan inflasi nasional. Inflasi yang rendah dan stabil akan mendorong pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Jakarta secara khusus, dan nasional secara umum. Penguatan koordinasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui TPID, sangat diperlukan untuk memastikan tetap terkendalinya inflasi tahun 2018 sesuai dengan sasaran inflasi nasional 3,5% ± 1. TPID Jakarta akan terus berkomunikasi dan berkoordinasi agar penerapan harga barang dan jasa yang dikendalikan oleh Pemerintah tidak menganggu pencapaian sasaran inflasi secara umum. Stabilitas harga pangan akan terus dijaga melalui kesinambungan pasokan di Ibukota. Nilai rupiah juga akan terus dipantau demi menjaga harga barang dan jasa yang mengandung konten impor tidak bergejolak.

Komentar Tentang Berita Laporan Perkembangan Inflasi Daerah Provinsi DKI Jakarta Periode November 2018

Load More
Loading... sedang mengambil data...